Rabu, 22 April 2009

rasulullah

Strategi Rasulullah dalam Perang Uhud
Maktabatuna
Mon, 23 Mar 2009 14:17:58 -0700
==== Sebelum terjadinya perang Uhud, suku Quraisy melakukan persiapan dan
mobilisasi besar-besaran untuk menyongsong peperangan pembalasan dendam setelah
kekalahan mereka dalam perang Badar. Terkumpullah 1.000 unta dan 1.500 dinar.
Setelah persiapan genap setahun, terkumpul 3000 unta, 200 penunggang kuda dan
yang mengenakan baju besi sebanyak 700 orang. Pemimpin tertinggi dipegang oleh
Abu Sufyan, sedangkan pasukan berkuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dan
Ikrimah bin Abu Jahal. Kemudian, mereka bergerak menuju ke Madinah.


Adapun di pihak Islam, dengan fasilitas dan pasukannya yang sangat minim.
Rasulullah pun membuat strategi tersendiri guna membela kehormatan dan
kemuliaan Islam dan umatnya. Di antara strategi ini, salah satunya adalah
strategi yang terkait dengan persiapan sebelum perang. Yaitu sebagai berikut.

1. Menempatkan Inteligen di Sarang Musuh
Setelah perang Badar, satu strategi Rasulullah saw yang sangat urgen
adalah menempatkan para inteligennya di Mekah untuk memberikan
informasi-informasi yang terkait tentang pasukan Quraisy. Salah satunya adalah
Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya sendiri. Melihat pasukan Quraisy yan sudah
berangkat ke Madinah untuk melakukan penyerangan, beliau mengirimkan surat
melalui utusannya untuk disampaikan kepada Rasulullah. Dalam waktu tiga hari,
utusan tersebut sampai di Madinah la menyerahkan surat itu kepada Rasulullah
yang sedang berada di masjid Quba. Setelah menerima surat itu, Rasulullah
meminta ahli bahasanya, Ubay bin Ka'ab, membacakan surat tersebut. la juga
diperintahkan untuk menjaga kerahasiaan isi surat tersebut.

2. Membentuk Majelis Permusyawaratan Militer
Rupanya, salah satu kelebihan Rasulullah sebagai seorang pemimpin
adalah mendengarkan jajak pendapat dari para sahabatnya. Sekalipun posisi
beliau sebagai seorang nabi, beliau mampu mengatur sendiri jalannya strategi
yang akan digunakan dan tentunya mendapat arahan dan wahyu dari langit, beliau
masih memusyawarahkannya dengan para sahabat. Pada saat itu, mayoritas suara
sahabat jatuh pada upaya melakukan penyerangan kafir Quraisy di Bukit Uhud.
Sementara, informasi tentang pasukan Mekah terus dilaporkan oleh badan
inteligen Rasulullah, termasuk kabar tentang posisi militer yang diambil
pasukan Quraisy. Selesai shalat Ashar, Rasulullah masuk ke rumahnya diikuti
oleh Abu Bakar dan Umar. Kedua sahabatnya ini memakaikan Rasulullah sorban dan
baju besi. la juga mengenakan pedangnya. Sementara, para sahabat di luar sedang
ramai bertukar pikiran. Usaid bin Hudzair dan Sa'ad bin Mu'adz, dua sahabat
yang berpendapat ingin bertahan di dalam kota, berkata kepada mereka yang
berpendapat ingin menyerang musuh di luar.

“Tuan-tuan mengetahui bahwa Rasulullah ingin bertahan di dalam kota. Lalu,
tuan-tuan berpendapat lain dan memaksanya bertempur keluar. Dia sendiri enggan
berbuat demikian. Serahkan sajalah persoalan ini kepadanya. Apa yang
diperintahkan kepadamu, jalankanlah. Taatilah pendapatnya dan sesuatu yang
disukainya."

Setelah mendengar keterangan itu, mereka yang berseru supaya menyerang saja
menjadi lebih lunak. Mereka menganggap telah menentang Rasulullah mengenai
sesuatu yang mungkin datang dari Tuhan. Setelah Rasulullah datang kembali ke
tengah-tengah mereka dengan memakai baju besi dan sudah menyiapkan pedangnya,
mereka yang sebelumnya menghendaki supaya mengadakan serangan berkata, "Ya
Rasulullah, bukan maksud kami hendak menentang engkau. Lakukanlah apa yang
engkau kehendaki. Kami juga tidak bermaksud memaksa engkau, karena engkau
mendapatkan berita dari langit, yang kemudian dikabarkan kepadamu."

Namun, Rasulullah menjawab, "Tidak layak bagi seorang nabi yang apabila sudah
mengenakan pakaian besinya, lalu menanggalkannya kembali sebelum Tuhan
memberikan putusan antara dirinya dan musuh-Nya. Perhatikanlah apa yang saya
perintahkan kepada kamu sekalian dan ikutilah. Atas ketabahan hatimu,
kemenangan akan berada di tanganmu."





3. Pembagian Komando
Jumlah pasukan kaum muslimin ketika itu 1000 orang. Pasukan itu
terdiri atas 100 prajurit mengenakan baju besi dan 50 penunggang kuda dan
sisanya pasukan berpedang. Kemudian, pasukan ini dibagi menjadi tiga batalion,
yaitu:
1. Batalyon Muhajirin, benderanya diserahkan kepada Mush'ab bin Umair.
2. Batalyon Aus, benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair.
3. Batalyon Khazraj, benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir
Al-Jamuh.

4. Menginspeksi Pasukan
Setibanya Rasulullah dan pasukannya di Syaikhani, beliau selaku
komandan tertinggi menginspeksi pasukan. Ternyata, di dalam pasukan terdapat
anak-anak yang usianya sangat belia. Beliau menolak keikutsertaan mereka,
kecuali yang mempunyai spesialisasi dalam peperangan, seperti Rafi’ bin Khudaij
yang mahir memanah dan Samurah yang ahli beladiri. Hari itu adalah hari Jumat.
Karena hari sudah petang, mereka menginap di tempat itu dan memerintahkan lima
puluh orang pasukan mengadakan hirasah, yakni menjaga di sekitar pasukan.

5. Tidak Meminta Pertolonga Orang-orang Kafir
Rasulullah melakukan hal itu ketika berangkat dari Madinah ke Uhud. Ia
mendapati sekelompok Yahudi, sekutu Abdullah bin Ubay yang ingin turut serta
membantu Rasulullah. Namun, Rasulullah menolaknya dengan mengatakan "Jangan
minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik sebelum
mereka masuk Islam."

Kemudian, orang-orang Yahudi itu pun kembali ke Madinah. Lalu mereka berkata
kepada Abdullah bin Ubay, "Kau sudah menasihatinya dan sudah kauberikan
pendapat berdasarkan pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya, dia
sependapat denganmu. Lalu, dia menolak dan menuruti kehendak pemuda-pemuda yang
menjadi pengikutnya."

Keesokan harinya, ia berbalik menggabungkan diri dengan pasukan teman-temannya
dan kembali ke Madinah. Hampir sepertiga pasukan mundur. Mereka adalah
orang-orang munafik yang bertujuan melemahkan semangat pasukan kaum muslimin.
Tinggal Alabi dan orang-orang yang benar-benar beriman yang berjumlah 700
orang. Mereka akan berperang menghadapi 3000 orang yang terdiri dari
orang-orang Quraisy Mekah. Semuanya sudah memikul dendam yang tak terpenuhi
ketika di Badar. Mereka ingin menuntut balas.

Akhirnya, Allah SWT mengokohkan hati mereka dengan menurunkan firman-Nya.
"Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah
adalah Penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu, hendaklah kepada Allah
saja orang-orang mukmin bertawakal." (QS Ali Imran [3]: 122)

Kemudian, turun lagi ayat yang menceritakan kondisi orang-orang munafik.
"Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik, kepada mereka
dikatakan, 'Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri
kalian).' Mereka berkata, 'Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan,
tentulah kami mengikuti kalian.' Mereka pada hari itu lebih dekat kepada
kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak
ada dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan." (QS
Ali Imran [31:167)

Ternyata, dalam sejarah tercatat bahwa keberadaan orang-orang munafik dalam
tubuh kaum muslim seperti duri dalam daging. Mereka sangat membahayakan.
Sebanyak 1000 pasukan kaum muslim berkurang menjadi 700 orang setelah melawan
3000 pasukan kafir Quraisy.

6. Meredakan Konflik Internal Sebelum Peperangan
Munir Muhammad Al-Ghadhban dalam Fiqh As-Sirah An-Nabawiyahnya
mengatakan bahwa Perang Uhud ini merupakan pembeda antara orang-orang mukmin
dan orang-orang munafik, seperti dalam firman Allah.

"Dan apa yang menimpa kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua
pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang yang
benar-benar beriman, dan untuk menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka
dikatakan, 'Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankan dirimu.' Mereka
berkata, 'Sekiranya kami tahu bagaimana cara berperang, tentu kami akan
bersamamu.' Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada
keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya.
Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan." (QS All Imran
[3]:166-167)

7. Memilih Posisi yang Strategis
Lagi-lagi, salah satu penentu kemenangan seorang komandan adalah
penentuan tempat yang strategis. Barangsiapa yang menempati posisi strategis,
kemungkinan besar akan menang dalam pertempuran. Rasulullah merupakan salah
satu panglima yang ahli dalam pengaturan strategi militer. Hingga ketika itu,
pasukannya dibawa ke kaki Bukit Uhud. Pasukan muslim mengambil tempat dengan
proses menghadap ke arah Madinah dan memunggungi Uhud. Dengan posisi ini,
pasukan musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.

8. Pembagian Pos Militer
Rasulullah membagi pos militer para prajuritnya, prajurit dakwah, serta
prajurit yang siap mengorbankan harta, waktu, tenaga dan bahkan jiwa untuk
mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Beliau pun menempatkan satuan pasukan khusus yang dipimpin oleh Abdullah bin
Jubair. Anggotanya terdiri dari 50 pemanah ulung di bukit Uhud, tepatnya 150
meter dari pasukan kaum muslim. Tujuannya jelas, yakni melindungi pasukan di
bawah yang sedang bertempur dari laju serangan depan yang menggelombang, juga
menahan pasukan kavaleri Khalid bin Walid yang sangat membahayakan. Berikut ini
instruksi-instruksi yang disampaikan Rasulullah kepada mereka, mengingat
pentingnya posisi mereka.

1. “Lindungi kami dari belakang, sebab kami khawatir mereka akan mendatangi
kami dari belakang. Bertahanlah dan jangan tinggalkan tempat itu. Kamu jangan
meninggalkan tempatmu kalau melihat kami berhasil menghancurkan dan memasuki
pertahanan mereka. Jika melihat kami diserang, jangan dibantu. Kami juga tidak
mempertahankan. Tugas yang kauemban adalah menghujani kuda-kuda mereka dengan
panah, karena kuda itu tak akan dapat maju dengan serangan panah."

2. "Lindungilah punggung kami jika kami sedang bertempur, maka kalian tidak
perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta
ghanimah, kalian jangan ikut bergabung bersama kami." Imam Bukhari
meriwayatkan, "Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, janganlah
kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusanku yang mendatangi kalian.
Jika kalian melihat kami berhasil mengalahkan mereka, janganlah kalian
meninggalkan tempat hingga ada utusan yang mendatangi kalian."

Dalam hal ini, kepiawaian Rasulullah dalam mengatur strategi perang terlihat
jelas. Dengan menempatkan posisi pemanah di bukit Uhud, berarti menutup
celah-celah pasukan Quraisy untuk mengadakan penyerangan, terutama dari kubu
Khalid bin Walid.

Kemudian, sayap kanan dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amr. Sementara, sayap kiri
dipimpin oleh Zubair bin Awam dengan dibantu satuan khususnya, Al-Miqdad bin
Al-Aswad untuk menghadang penyerangan pasukan Khalid bin Walid. Barisan
terdepan diisi oleh para pemberani yang mencari syahid, yakni para pahlawan
Islam yang langsung dipimpin oleh Rasulullah.

Sementara itu, pihak Quraisy juga sudah menyusun barisan. Barisan kanan
dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan sayap kiri dipimpin oleh Ikrima bin
Abu Jahal. Bendera diserahkan kepada Abdul Uzza Thalhah bin Abu Thalhah.
Wanita-wanita Quraisy sambil memukul tambur dan genderang berjalan di
tengah-tengah barisan itu. Terkadang, mereka di depan barisan dan di belakang.
Mereka dipimpin oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan, seraya berteriak,
"Ayo, Banu Abdud Dar! Ayo, pengawal barisan belakang! Hantamlah dengan segala
yang tajam. Kamu maju, kami peluk. Kami hamparkan kasur yang empuk. Jika kamu
mundur, kita berpisah. Berpisah tanpa cinta."

Kedua belah pihak sudah siap bertempur dan mengerahkan pasukannya. Yang selalu
diingat oleh Quraisy ialah peristiwa Badar dan korban-korbannya, sedangkan yang
selalu diingat oleh kaum muslim ialah Allah dengan pertolongan-Nya.

9. Mengobarkan Semangat Jihad
Begitulah yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin perang,
mengobarkan semangat untuk maju pantang mundur. Hal itu telah dicontohkan oleh
Rasulullah dalam perang Uhud. Beliau mengobarkan semangat para kadernya untuk
sabar, teguh, berani, serta patriotik dalam menyongsong syahid dan memperoleh
surga Allah SWT.

Rasulullah berpidato untuk memberikan semangat dalam menghadapi pertempuran
itu. Beliau menjanjikan pasukannya akan mendapat kemenangan apabila mereka
tabah. Lalu, beliau mengambil sebilah pedang sambil bersabda, "Siapa yang akan
memegang pedang ini untuk disesuaikan dengan tugasnya?"
Beberapa orang tampil, namun pedang itu tidak pula diberikan kepada mereka.
Kemudian, Abu Dujana Simak bin Kharasya dari Bani Sa'ida tampil seraya berkata,
"Apa tugasnya, ya Rasulullah?" "Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada
musuh sampai ia bengkok," jawabnya.

Abu Dujana, seorang laki-laki yang sangat berani, mengenakan pita (kain) merah.
Apabila ia sudah mengikatkan pita merahnya itu, orang akan mengetahui bahwa ia
sudah siap bertempur. Saat itu, ia pun sudah mengeluarkan pita mautnya.

Ia mengambil pedang, mengeluarkan pita, lalu mengikatkannya di kepala. Seperti
biasa, ia berlagak di tengah-tengah dua barisan itu bila sudah siap menghadapi
pertempuran. "Cara berjalan seperti ini sangat dibenci Allah, kecuali dalam
bidang ini," kata Rasulullah setelah melihat gaya berjalan Abu Dujana.

Minggu, 19 April 2009

emosi

EMOSI... HANYA SEKEDAR EMOSI (Tulisan tidak ilmiah sama sekali)

Oleh: Mas Bambang Purnomo Sigit, SH, MM


''Kesuksesan itu ditentukan oleh visi, imajinasi, aksi, dan emosi. Emosi berperan penting, karena manusia satu saling berhubungan dengan manusia lain. Dalam bisnis, if you don't networking, you're not working.'' (Anthony Dio Martin)


1. Pendahuluan
Dalam suatu diskusi, Anthony Dio Martin penulis buku Emotional Quality Managament (2003) dan Audio Book Emotional Power (2004), mengungkapkan kekuatan emosi sebagai salah satu kunci kesuksesan seseorang. Sebab, banyak kasus menunjukkan kemampuan mengelola emosi dapat membawa seseorang ke puncak karir lebih tinggi ketimbang mereka yang hanya mengasah IQ. Ibarat emosi bermasalah, kehidupan pun bermasalah. Sering kali kita melihat fakta membuktikan seseorang pemarah sangat sulit untuk mendapatkan teman. Tetapi apakah emosi itu hanyalah perasaan marah saja?
Emosi sendiri adalah suatu gejala yang menunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran, keprilakuan, dan proses fisiologis (Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, hal. 50). Misalnya orang yang anda cintai mencemooh anda, karena anda tahu akan makna cemoohan itu, timbulah reaksi emosional jantung berdetak kencang, berkeringat, nafas terengah-engah (fisiologis), dan mungkin anda akan membalas dengan kata-kata kasar. Atau mungkin anda baru saja berpisah dengan kekasih anda, sehingga saat anda mendengar lagu yang bertema patah hati, tiba-tiba diri anda meneteskan air mata. Atau disaat anda mendapatkan hadiah undian yang tak anda kira sama sekali, sehingga uphoria atau bahkan sampai histeris.
Dengan adanya kegoncangan emosi ini akan menimbulkan dua kemungkinan akibat, orang lain suka atau justru orang lain akan tak suka, meskipun gejolak emosi yang timbul itu bukan berupa kemarahan.

2. Apa itu emosi?
Emosi bukanlah sesuatu yang jelek, tanpa itu, kehidupan serasa hampa, semua lurus begitu saja. Menurut Coleman dan Hammen (Contemporary Psychologi and Effective Behaviour), ada empat fungsi emosi:
a. emosi adalah pembangkit energi, tanpa itu kita tidak bisa merasai, mengalami, bereaksi, ataupun bertindak. Marah membangkitkan tindakan menyerang, takut membangkitkan tindakan, cinta membangkitkan keinginan untuk bermesraan,
b. emosi adalah pembawa informasi, kita bisa melihat gejala emosi dari informasi baik itu ekspresi, kata-kata atau bentuk komunikasi non-formal lainnya,
c. emosi adalah sebagai pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal, kita lihat presenter suatu acara, yang menghidupkan suasana dengan penuh emosi, sehingga bisa melarutkan para pirsawan yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam acara tersebut,
d. emosi adalah sumber informasi internal diri tentang keberhasilan kita, kita mencari keindahan dan baru bisa mengetahui kalau kita memperolehnya pada saat kita merasakan kenikmatan estetika dalam diri kita.
Dalam hal intensitas, emosi dibagi menjadi tiga, yaitu: ringan, berat dan desintegratif. Emosi ringan dapatlah dirasakan jika diri merasakan ketegangan sedikit, dan untuk itu masih bisa dikendalikan dan dihindari. Sedangkan emosi berat disertai rangsangan fisiologis yang kuat berupa detak jantung yang mengencang, serta tekanan darah, nafas, dan produksi andrenalin yang meningkat, ini agak sulit dikendalikan. Dan yang ke-tiga adalah emosi desitegratif merupakan emosi yang terjadi akibat akumulasi emosi yang tak tersalur sehingga sering kali memuncak hingga tak terkendali, penumpukan emosi tanpa adanya suatu penyelesaian inilah yang sering berakibat buruk baik. Seseorang yang mengalami penderitaan terus menerus pada suatu saat akan meledak apabila dia sudah tak mampu lagi menampung akumulasi emosinya.
Sedangkan dalam hal lamanya, emosi dibagi dua, yaitu:
a. Mood, yaitu emosi yang berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Mood akan mempengaruhi persepsi/ penafsiran kita terhadap apa yang kita lihat, kita dengar, atau rangsangan apa saja yang tertangkap oleh panca indera kita. Mungkin karena sedang emosi, kita melihat ada kucing yang sedang enak-enak tidur, tahu-tahu kita tendang tanpa alasan yang jelas,
b. Temperamen, adalah emosi yang telah berlangsung kronis serta telah menjadi struktur kepribadian. Contohnya dilingkungan kita sendiri bisa dilihat orang yang bertemperamen penyedih, pemarah atau yang lainnya.

3. Kecerdasan emosional
Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, menyatakan ada 5 (lima) wilayah kecerdasan emosi, yaitu: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, dan membina hubungan. Dengan mengenali emosi diri berarti kita paham akan akan kelemahan ataupun kekuatan diri kita, apakah diri kita gampang sedih, gampang marah atau yang lainnya serta seberapa tingkat intensitasnya. Dengan ke-tahu-an inilah maka dengan mudah kita mampu mengendalikan emosi itu, kita mampu mengelola emosi itu sehingga bisa kita endapkan dalam hati. Jika kita mampu mengelolanya maka jadilah emosi itu sebagai energi untuk memajukan diri, contohnya, seorang pecundang yang mampu mengelola emosinya, menggunakan semangat dari kemarahan karena sering disepelekan menjadi pemicunya dalam mengejar prestasi sehingga dia bisa membuktikan kalau dia bukan si pecundang.
Tetapi yang tak boleh dilupakan, sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa menghindakan diri berinteraksi dengan manusia yang lain, dalam hal ini dengan kemampuan menggunakan emosi sebagai pembawa informasi, kita bisa melihat sisi, kadar intensitas emosi orang lain yang muncul dari komunikasi non-formalnya, berupa ekspresi, tekanan nada suara, gerakan ataupun bahasa simbol yang dipakainya. Jika kita mampu membaca bahasa-bahasa itu maka bisa diupayakan tindakan kontra reaksi dari emosi orang tersebut. Umpamanya, jika kita lihat ada gejala lawan bicara kita tersinggung, maka kita antisipasi dengan dengan berbicara yang bersifat menetralkan perasaan orang tersebut. Setelah kita pahami masalah emosi diri maupun emosi orang lain, maka secara akanlah mudah kita menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. Sehingga dari diri kita akan muncul pribadi yang menyenangkan. Seseorang yang emiliki kecerdasan emosi yang baik akan peka terhadap situasi apapun yang sedang terjadi, serhingga dengan mudah menyiapkan strategi kontra situasi terhadap suatu konflik yang ada.
Kecerdasan emosi berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ). IQ adalah suatu bentuk kecerdasan yang dibawa dari lahir karena merupakan keturunan yang tak dapat dirubah lagi. Sedangkan kecerdasan emosional merupakan jembatan dari apa yang kita ketahui, dan apa yang kita lakukan. Dengan semakin tinggi kecerdasan emosional, kita akan semakin terampil melakukan apa pun yang kita ketahui benar. (Purdi E. Chandra, Menjadi Enterpreneur Sukses, hal. 71)


4. Cara mempelajari dan mengelola kecerdasan emosi
Dr. Patricia Patton dalam bukunya Emotional Quotient mengungkapkan bahwa untuk mampu mengatur emosi adalah dengan cara belajar. Pertama: belajar mengidentifikasikan apa saja yang bisa memicu emosi kita dan respon apa yang biasa kita berikan. Ke-dua: belajarlah dari kesalahan, belajar membedakan segala hal di sekitar kita yang dapat memberikan pengaruh dan yang tak dapat memberikan pengaruh pada diri kita. Ke- tiga: belajar selalu bertanggung jawab pada setiap tindakan kita. Ke-empat: belajar mencari kebenaran, belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan masalah. Ke-lima: belajar menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati. Kelima hal inilah yang apabila kita pelajari akan memudahkan diri kita dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

6. Emosi dalam kehidupan
Emosi memicu kreativitas dan inovasi kita. Emosi juga mengaktifkan nilai-nilai etika maupun estetika ataupun mempercepat penalaran. Emosi juga berperan penting dalam membangun hubungan kepercayaan dan keakraban. Tanpa emosi, diri tak termotivasi. Tanpa adanya itu tak akan terjadi penalaran dan rasionalitas yang fantastis dari seseorang, semua datar tanpa adanya loncatan quantum dalam berfikir dan bertindak. Karena emosi lebih jujur dari pikiran dan penalaran, serta memiliki kedalaman dan kekuatan, hingga tepatlah jika emosi juga berarti motus anima (Latin) atau jiwa yang menggerakkan kita. Jika kita mampu mengelola emosi dengan baik maka tak dapat disangkal lagi jika kesuksesan akan datang menghampiri kita.

Rabu, 31 Desember 2008

menulislah maka kaya

أُكْتُبْ فَأَنْتَ غَنِيٌّ !

Menulislah, Maka Anda Menjadi Kaya!

Oleh: Irham Sya’roni *

Sesi Pertama **

Untuk Apa Menulis?

Menulis akan mengantarkan kita pada tujuan apa pun yang diinginkan: meraup penghasilan, mencari popularitas, atau tujuan idealis seperti mendidik masyarakat, berdakwah, dan sebagainya. Dengan menulis, kita dapat mengubah dunia sesuai apa pun kehendak kita, menjadi lebih baik atau justru kian buruk dan terpuruk.

Sebesar apa pun gagasan Anda, jika tidak diikat dengan tulisan, maka akan mengendap begitu saja atau menguap, hingga akhirnya tidak membawa manfaat sedikit pun. Kita tidak akan pernah menjadi Muslim dan ‘Alim manakala Al-Qur’an dan Sunnah Nabi tidak pernah dituliskan. (Silakan buka kembali sejarah penulisan serta pembukuan/kodifikasi Al-Qur’an dan Sunnah Nabi!)

Hampir semua ulama salaf juga selalu disibukkan dengan tradisi literasi (membaca dan menulis). Kitab-kitab salaf (untuk tidak menyebut ‘kuning’) yang setiap hari dikaji di pesantren dan madrasah adalah buah karya kesibukan literasi mereka. Lihat pula tokoh-tokoh besar dunia semisal Al-Bukhari, Muslim, Al-Ghazali, Al-Farabi, Imam Syafi’i, dan lainnya, mereka mampu menebarkan peradaban yang mencerahkan juga disebabkan tradisi luhur menulis.

Cobalah sekarang Anda renungkan; jika seorang dai, guru, atau kiai hanya mengandalkan khutbah atau ceramah untuk berdakwah, maka seberapa besar efektivitas yang didapat? Paling-paling hanya puluhan, ratusan, atau ribuan orang yang mendengarnya. Itu pun akan menguap dan hanya tersisa 15 % dari total materi yang diberikan.

Berbeda jika mereka menulis, maka jutaan bahkan seluruh manusia di dunia akan mendapatkan siraman dakwahnya. Bahkan tulisan mereka akan terus awet dan menjadi warisan otentik untuk anak cucu sampai 10.000 turunan (tidak hanya 7 turunanJ).

So, mulailah menulis sekarang juga, maka dunia akan menjadi ‘milik’ Anda!


Jangan Kaitkan Menulis dengan Bakat!

Kerap beredar komentar bernada skeptis, “Ah, menulis itu hanya untuk orang-orang berbakat!” Benarkah demikian? Saya anjurkan Anda tak perlu mendengarkan komentar itu. Sebab, menulis tidak ada kaitannya dengan bakat. Kalaupun bakat ikut terlibat dalam aktivitas kepenulisan, paling-paling hanya 5 %. Sedangkan yang 5 % adalah faktor keberuntungan, dan sisanya (90 %) tergantung pada kesungguhan dan kerja keras kita.

Semua orang yang bisa ‘menulis’, sebetulnya ia telah menyimpan potensi besar untuk menjadi penulis. Hanya, potensi itu memang perlu dikembangkan. Ibarat pisau, untuk menjadi tajam haruslah sering diasah.

Selama duduk di bangku sekolah, sudah berapa banyak catatan yang Anda buat? Selama Anda dibuai asmara, berapa banyak surat, diary, atau SMS yang telah Anda buat? Jika kita mau membuka mata, sebetulnya sejak itulah kita telah memiliki kretivitas dan produktivitas untuk menjadi penulis.

Lagi-lagi, tergantung kesungguhan dan kerja keras kita untuk menyiasati gaya penulisan catatan-catatan tersebut dari sekadar konsumsi pribadi menjadi konsumsi umum. Nah, untuk terampil menyulap catatan-catatan tersebut menjadi konsumsi umum adalah dengan rumus ‘L’ seribu, yaitu Latihan, Latihan, Latihan, Latihan, dan …….. Latihan!

Keterampilan menulis ibarat keterampilan bersepeda atau berenang. Teori saja tidak cukup. Bahkan, tanpa tahu semua teori bisa saja seseorang dapat mengendarai sepeda atau berenang dengan baik. Sebaliknya, orang yang mengetahui teori bersepeda atau berenang tetapi tidak pernah berani mencoba mempraktikkannya, maka insya Allah ia tidak akan pernah bisa.

Jadi, ingat dan ikat baik-baik; menulis bukanlah bakat, melainkan karena kesungguhan dan kerja keras yang dilandasi cinta!


{Segala sesuatu yang Anda geluti dengan cinta dan ketekunan, maka kekayaan dan kepuasanlah buahnya}


Mungkinkah Menulis Membuat Kita Kaya?

Siapa bilang menulis tidak bisa menjadi profesi dan lahan subur bagi tumbuhnya daun-daun hijau bernama rezeki? Siapa bilang menulis hanya membuang-buang waktu percuma? Yakinlah bahwa menulis adalah profesi atau pekerjaan! Dan, yakinlah pula bahwa menulis adalah lahan subur untuk menjadi kaya.

Dalam ranah tulis menulis, sosok mendiang KH. Zainal Arifin Thoha (Gus Zainal) adalah idola saya. Beliau adalah kiai muda yang produktif. Lebih istimewa tak produktif untuk diri sendiri, tetapi juga berhasil mewariskan produktivitasnya kepada para santrinya di PP Hasyim Asy’ari Jogjakarta.

Hampir bisa dipastikan, setiap hari nama-nama santri beliau menghiasai media massa lokal maupun nasional. Dari tradisi menulis itulah, para santri eksis kuliah dan hidup secara mandiri. Bahkan, ada larangan keras santri menerima–apalagi meminta—wesel dari orangtua.

Suatu ketika, saya bertanya kepada seorang santri Gus Zainal berapa honor yang mereka terima dari aktivitas menulis setiap bulan. Mereka menjawab, “Alhamdulillah, Mas, pas dan seadanya.” Ternyata maksudnya adalah pas butuh biaya kuliah, ada; pas butuh buku, ada; pas pengen beli baju, ada; pas berhasrat beli macam-macam, juga ada. Bahkan pas orangtua di rumah membutuhkan biaya sekolah untuk adik-adiknya, juga ada.

Kekayaan lain yang tidak kalah nilainya adalah kekayaan hati dan pikiran. Dengan menulis dan tulisan kita dibaca orang lain, secara psikologis hati kita akan puas dan bangga. Pikiran pun semakin kaya. Ketika tulisan kita dibaca orang lain, sebetulnya kita telah menjadi kaya. Buktinya, kita bisa memberi bacaan dan pemikiran kepada orang lain. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan bawah? J Inilah yang saya sebut kaya simbolis: kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya emosi, kaya kepuasaan, dan seterusnya.


{Kekayaan sejati bukan terletak pada harta benda dan dunia, tetapi kekayaan sejati terletak pada hati}


Berapa Honor Menulis di Media Massa?

Pantaskah dan layakkah kita yang nota bene menyandang gelar ‘santri’ membicarakan uang dan kekayaan? Saru dan tidak elok?

Ah, tidak juga. Bukankah para sufi dan kiai, bahkan Nabi sendiri, tidak pernah melarang kita mencari rupiah? Bukankah Allah justru menyuruh kita menjadi orang kaya dan memiliki etos kerja yang tinggi? Tengoklah di antaranya firman-Nya dalam Q.s. Al-Jumu’ah: 10. Yang saru dan wagu itu apabila uang dan dunia menjadi tujuan utama, sementara urusan dengan Tuhan terlalaikan. Menulis adalah pekerjaan yang halal dan thayyib.

Menurut saya, sebagai sebuah profesi, tidaklah mengapa kita membincangkan persoalan ini. Tujuannya jelas, yakni memotivasi Anda (saudara seiman) agar lebih giat mencari anugerah Allah di muka bumi.

Kini, siapkan kalkulator dan silakan kalkulasi sendiri penghasilan Anda jika menjadi penulis media massa. Berikut nominalnya:

  1. Cerita humor : Rp 25.000 – 100.000

  2. Puisi : Rp 50.000 – 200.000

  3. Resensi : Rp 50.000 – 400.000

  4. Cerpen : Rp 100.000 – 400.000

  5. Opini : Rp 100.000 – 1.000.000

Jika Anda produktif, Anda tinggal mengalikan nominal-nominal tersebut dengan jumlah karya Anda setiap bulan. Khusus untuk tulisan yang diminta media dari seorang pakar atau ahli di bidang keilmuan honornya lebih tinggi, sekitar Rp 2 juta – 3 juta.

Berapa Penghasilan Menulis Buku?

  1. Muhammad Fauzil Adhim terang-terangan mengaku mendapatkan royalti Rp 15 juta – 25 juta per bulan dari satu buku, Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Angka itu belum termasuk buku-buku lainnya dan artikel-artikel yang tersebar di media massa. (Republika, 1 Agustus 2005)

  2. Novelis Pipiet Senja mengaku memeroleh sekitar 30 juta per tiga bulan. Kalau lagi apes, serendahnya-rendahnya 5 juta per bulan.

  3. Novelis Asma Nadia, menurut penuturan kakaknya, Helvy Tiana Rosa, dalam Menulis Bikin Kaya (2007), penghasilannya paling sial adalah Rp 10 juta.

  4. Abrurrahman Faiz, penyair cilik kelahiran 15 November 1995, mulai dikenal publik setelah menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional (2003). Ia lalu membukukan tulisan dan puisinya, dan mengeruk royalti sebesar Rp 3 juta /bulan dari satu judul buku. Padahal buku karyanya telah terbit lima. Jadi, berapa pendapatan si kecil Faiz ini? Silakan hitung sendiri!

  5. Moh. Rifa’i, penulis buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (buku yang sederhana bukan?), meraup royalti Rp 8 juta / bulan sejak tahun 1976 (terbit pertama kali) sampai sekarang. Jika ditotal= Rp 3.061.575.000

  6. Habiburrahman El-Shirazy Ayat-Ayat Cinta (AAC), data dari Harian Kedautalan Rakyat (21 Juni 2008) menyebutkan bahwa AAC telah menembus angka penjualan 1 juta eks. Artinya, jika kita hitung royaltinya dengan menggunakan harga soft cover yang telah naik menjadi Rp 45. 000 / eks dan dengan royalty 10 %, maka dari satu buku (novel) ini saja penulisnya mengantongi royalty sebesar Rp. 4.500.000.000. Padahal novel Habiburrahman alias Kang Abik bukan AAC saja. Lagi-lagi, silakan Anda hitung sendiri!

  7. Hilman ‘Lupus’ Hariwijaya berpenghasilan 13 juta / bulan dari satu judul catatan Si Lupus.

  8. Andrea Hirata Seman Said Harun sang ‘Laskar Pelangi’ berpenghasilan lebih dari Rp 3.000.000.000 dari novel Laskar Pelangi, Rp 760.000.000 dari Sang Pemmpi, dan Rp. 546.000.000 dari Edensor. Belum ditambah royalti filmnya dan bukunya yang beredar di Brunei, Singapura, dan Malaysia. Ditambah lagi novel terbarunya, Maryamah Karpov.


Belajar Pada Andrea Hirata

Lelaki kelahiran Belitong, Provinsi Bangka Belitung, ini adalah pendatang baru di kancah kesusastraan Indonesia. Namanya mencuat lewat novel garapannya Laskar Pelangi. Tidak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Andre –begitu ia sering disapa—akan menjadi novelis yang berhasil mencuri perhatian sastrawan dalam dan luar negeri. Jangankan menulis novel, menulis sepotong cerpen pun ia belum pernah.

Ia pun sebetulnya tak begitu suka membaca novel. Seumur hidupnya baru lima novel yang ia baca. Anehnya, justru buku-buku ekonomi yang setiap hari dilahapnya. Sebab, selama kuliah ia memang mengambil spesialisasi ekonomi, utamanya ekonomi telekomunikasi.

Dalam jagat sastra Indonesia, Andre ibarat perawan jelita yang sekonyong-konyong menjadi buah bibir para perjaka. Ia muncul ke permukaan dengan membawa bendera Laskar Pelangi.

Menurut pengakuannya, ia sama sekali tak bermaksud membuat novel. Kisah dalam novel itu berasal dari kegetiran yang dialami Andre sendiri, yang kemudian ia tuangkan dalam rangkaian tulisan.

Bagaimana proses penulisannya sehingga menjadi karya yang booming? “Saat menulis, yang terpatri di otak saya adalah mengeluarkan semua yang ada dalam pikiran. Sebagai tempat curahan hati, saya pun menulis. Ternyata, menulis itu mengasyikkan dan membuat kita lupa waktu. Akhirnya, seperti sudah menjadi ritual, seusai pulang kantor saya langsung menulis. Saat saya menulis, saya tak mau tahu apakah tulisan saya itu bagus atau jelek, apakah tulisan saya itu sesuai dengan komposisi. Yang penting adalah tulis, tulis, dan tulis!” paparnya.

***

Agar Tulisan Tembus Media Massa

Oleh: Irham Sya’roni *

Sesi Kedua **


Plus Minus Menulis di Media Massa

Bila dibandingkan dengan menulis buku, menulis di media massa memiliki beberapa keunggulan: (1) honor tulisan cepat cair, (2) tidak membutuhkan proses yang lama, (3) potensi keterbacaannya lebih tinggi, (4), penulis lebih cepat terkenal, (5) peka terhadap persoalan kekinian masyarakat, (6) sebagai langkah awal untuk menjadi penulis buku best seller.

Kelemahannya, penulis media massa dituntut produktif dan kreatif menulis setiap hari, sementara penulis buku (sistem royalti) memungkinkan ongkang-ongkang beberapa waktu. Sebetulnya kelemahan ini bisa menjadi kelebihan bagi Anda yang berhasrat mengasah produktivitas dan kreativitas, bukan sekadar mengejar finansial.

Jalan tengah terbaiknya adalah menulis untuk kedua media tersebut (media massa dan penerbit). Dengan jalan tengah ini Anda bisa memiliki dua saluran pipa penghasilan dan tetap memiliki wawasan serta informasi yang up to date.


Memilih Bentuk Tulisan

Pada dasarnya, media massa memiliki 2 bagian besar: News (berita) dan Views (pandangan/non-berita). Berita biasanya dibuat oleh wartawan, terdiri dari Straight News (berita langsung), Soft News (berita ringan), dan Feature (berita/karangan khas).

Bagian Views-lah yang menjadi wilayah garapan kita. Bentuknya bermacam-macam: artikel opini, resensi buku, cerpen, dan masih banyak lagi. Mari kita telusuri satu per satu:

  1. Opini

Yaitu tulisan atau karangan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada di tengah masyarakat yang ditulis dengan bahasa ilmiah popular. Dengan menulis opini, kita bebas memuntahkan kegelisahan apa pun dan bisa ‘seenaknya’ mengkritik apa pun atau siapa pun.

Yang perlu diperhatikan: (1) carilah topik yang hangat, up to date, dan sesuai visi misi media massa yang kita tuju, (2) perluas dan perdalam perspektif Anda tentang topik tersebut, (3) buatlah skektsa atau poin-poin yang akan Anda uraiakan, (4) mulailah menulis dengan emosi dan hati, (5) perhatikan EYD, (6) buatlah judul yang singkat, padat, dan memikat, (7) perhatikan word count di computer Anda, dan (8) baca ulang sebelum mengirim tulisan tersebut.

  1. Cerpen dan Puisi

Anda tentu lebih tahu apa itu cerpen dan puisi. Anda tentu juga pernah atau bahkan sering membuatnya (biasanya tentang romantika dan cinta J). Yang perlu diperhatikan agar cerpan atau puisi Anda nongol di tabloid, majalah, atau koran adalah ketentuan karakter media yang kita tuju.

Kesalahan besar dalam menulis cerpen adalah memulainya dengan tulisan yang ‘ngoyo woro’, ngalor-ngidul, mendayu-dayu, dan membosankan. Pilihlah kalimat yang thas-thes dan bernas. Akan sempurna jika Anda menulisnya tidak dengan teori, tetapi dengan hati.

  1. Resensi

Yaitu ulasan atau review atas suatu buku. Resensi adalah aktivitas yang menggiurkan sekaligus menguntungkan. Keuntungan resensi adalah: (1) mendapat honor dari media massa, (2) kadang juga mendapat reward tambahan uang saku dari penerbit, dan (3) bisa mengoleksi puluhan hingga ribuan buku secara gratis.

Tips meresensi: (1) pilih buku yang menarik dan up to date, (2) baca dan simpulkan beberapa halaman inti (back cover, pengantar, pendahuluan, dan halaman inti yang selaras dengan judul), (3) beri penilaian objektif terhadap apa pun terkait buku tersebut (utamanya content), dan (4) pungkasi dengan melongok word count lalu baca ulang.

  1. Cerita Humor

Untuk yang satu ini, Anda tentu lebih paham dan fasih. Sebab, setiap hari bahkan setiap detik Anda tak pernah lepas dari theng-theng crit (thenguk-thenguk crito) alias ngobrol dan ngrumpi sambil mbanyol. Sayangnya, Anda kerap tidak menyadari bahwa guyonan Anda itu sebetulnya dapat menjadi lumbung rupiah. Caranya, cukup Anda tulis lalu kirimkan! Bukankah membuat orang lain tersenyum dan tertawa adalah sedekah?!


Tips Bagi Penulis Pemula

Sssttt, jangan bilang-bilang ya! Sebetulnya ini adalah tips rahasia dan sedikit kurang ‘etis’. Bagi Anda, penulis pemula, ada beberapa modal utama untuk menjadi penulis media massa: (1) jangan pernah takut dan malu untuk menulis, (2) tulislah apa pun yang ingin Anda tulis, dan (3) –Nah, ini yang benar-benar rahasia-- ‘tidak mengapalah’ Anda menerapkan strategi ATM (Ambil, Tiru, dan Modifikasi). Tetapi, jangan sekali-kali Anda menerapkan strategi ATP (Ambil, Tiru, dan Paste).


Bagaimana Jika Tulisan Kita Ditolak

Ditolak? Siapa takut?!! KH. Musthofa Bisri, Emha Ainun Najib, dan lainnya, mereka menjadi penulis ternama juga berawal dari ditolak, ditolak, dan ditolak kemudian ditolak lagi. Jika itu yang terjadi, maka: (1) jangan pernah putus asa, (2) jangan malu untuk mengirim tulisan yang lain, (3) kalau perlu Anda hubungi langsung redaksi, tanyakan nasib tulisan Anda dan apa yang harus dibenahi, (4) jangan pernah membuang selembar pun tulisan Anda yang ‘tidak laku’, tetapi kirimkan ke media lain, atau simpan lalu bongkar lagi beberapa waktu yang akan datang.

Gus Mus, Emha, dan Gus Zainal pernah bertutur bahwa tulisan mereka yang saat ini mereka publikasikan –ada beberapa—yang sebetulnya adalah produk lama yang ‘tidak laku’. Ketika mereka telah menjadi penulis terkenal, semua tulisan yang dulunya ‘sampah’ itu ternyata berubah laris manis. Inilah yang kita sebut ‘Cuci Gudang’.

Yakinlah Anda Pasti Bisa!

Curriculum Vitae

Nama Lengkap : Irham Sya’roni

Nama Akrab : Irham

Status : Calon Bapak

Nama Istri : Ulfah Nurhidayah

Tempat /Tgl Lahir : Grobogan, 1 Februari 1980

Alamat : Kompleks ATMAJADA Jln. Makam Sewu RT 05 Ngeblak

Wijirejo Pandak Bantul DIY 55761

Contact Person : 087833046551

E-mail : irhamshohiby80@yahoo.com

Personal Web : http://irhamku.blogspot.com

Hoby : Membaca, Menulis, Bermain dengan anak-anak, nge-Game,

dan koleksi buku

Cita-cita : Pendidik, Penulis, menjadi Bapak serta Suami Teladan


Riwayat Pendidikan:

  1. TK SUNNIYYAH Selo Grobogan (1986)

  2. MI SUNNIYYAH Selo Grobogan (1987-1993)

  3. MTs SUNNIYYAH Selo Grobogan (1993 -1995)

  4. MA Tasywiqut Thullab Salafiyah (TBS) Kudus (1995 -1998)

  5. Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2003-2008)

  6. Pondok Pesantren Al-Hidayah dan Al-Faqih Selo, Tawangharjo, Grobogan (1980-1995)

  7. Ma’had Al-‘Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUSYQ) Kudus (1995-1998)

  8. Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang (1998-2000)

  9. Mengaji sembari khidmah menjaga toko Kiai Arwani (Yarwa) Kudus(2000-2002)

  10. Pondok Pesantren Al-Azhar Tayu, Pati (2002-2003)


Aktivitas dan Pengalaman:

  1. Mengajar di Pondok Pesantren serta SD, SMP, dan SMA Islam Darul-Hikmah Sleman Yogyakarta (mengundurkan diri pada Juni 2008).

  2. Ketua Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Yogyakarta

  3. Menulis untuk media massa.

  4. Menerjemah dan menulis buku.

  5. Citizen Reporter NU Online, media informasi PBNU Jakarta.

  6. Citizen Reporter Kabar Indonesia Belanda-Jakarta.

  7. Pendiri lembaga pendidikan kreasi anak Adikarya Tarbiyatul Muslimin Al-Mujahadah (ATMAJADA) Yogyakarta.

  8. Anggota majlis dzikir dan semaan Al-Qur’an Al-Mujahadah Yogyakarta

  9. Mendampingi isteri; pagi, siang, sore, maupun malam (24 jam non-stop).


Pengalaman Menulis:

Di media massa, antara lain:

  1. Bangka Pos : Nuzulul Qur’an (2007)

  2. Bernas Jogja : Menunaikan Amanah Jabatan (2007), Esensi Peringatan Maulud Nabi (2007), Hakikat Syukur (2007), Doa Yang Sia-sia (2007)

  3. Duta Masyarakat: Guru, Dipuja dan Disia-Sia (2007), Haji Transformatif (2008)

  4. Harian Umum Pelita : Mengefektifkan Zakat Fitrah (2008), Mengenang Dua Tahun Kepergian Nurcholish Madjid (2005)

  5. Harian Sore Wawasan : Kiai dan Godaan Politik Praktis (2007), Sumpah Pemuda Tak Hanya Romantisme Sejarah (2007)

  6. Koran Merapi Yogyakarta: Kontemplasi Mencari Makna di Penghujung Tahun (2006), Jangan Ada Revisi PP 37/2006 (2007), Dar Der Dor! Polisi Brutal Masyarakat Kehilangan Pengayoman (2007), Jangan Perkosa Bumiku! (2007), Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia (2007), Di Balik Pertarungan Politik Zaenal vs SBY (2007)

  7. Republika : Konteks Sosial Kurban (2006), Refleksi Maulid Nabi (2007), Pelajaran Isra’ dan Mi’raj (2007), Membendung Aliran Sesat (2007), Revitalisasi Semangat Kurban (2007)

  8. Solo Pos : NU dan Tantangan Masa Depan (2007), Feodalisme Senioritas Kampus IPDN (2007), Refleksi Setahun Gempa Jateng-DIY (2007), Sorban Sunan Kalijaga – Cerpen (2007), Mas Lurah – Cerpen (2007), Ramadan Bulan Toleransi dan Persaudaraan (2007), Membedah Simbolisasi Ritual Haji (2007), Meneguhkan Kembali Sikap Politik NU (2008), Perjalanan Menuju Haji Mabrur (2008)

  9. Suara Merdeka : Pesan Profetik Maulid Nabi (2007)

  10. Suara Karya : Stabilisasi Kemelut Minyak Goreng (2007)

  11. Surya Surabaya : Memburu Malam Seribu Bulan (2007)

  12. Suara Pembaruan : Agama Sebagai Peredam Konflik (2008)

  13. Beberapa karya resensi, cerita humor, dan mutiara hikmah kerap dimuat di media cetak lokal maupun nasional serta beberapa situs internet.


Di penerbitan:

  1. Terjemah: Lenyapnya Israel di Tahun 2022 (Citra Risalah: 2008), Pengalaman Shalat Pertamaku Sehingga Menjadi Candu Bagiku (Citra Risalah: 2008), Menyingkap Dimensi Keabadian Sang Nabi Dalam Perspektif Injil dan Barat (Citra Risalah: 2008), Muhammad Makhluk Paling Mulia (Citra Risalah: 2008)

  2. Karya Genuine: Cerita Teladan yang Menakjubkan dalam Al-Qur’an (Idea World Kidz: 2008), Keliling Dunia (Idea World Kidz: 2008), Al-Qur’an Kitabku (Idea World Kidz: 2008)

  3. Editor : Misteri Ruh (Citra Risalah: 2008), Kisah Teladan Sepanjang Zaman (Citra Risalah: 2008)


Yang akan terbit:

Terjemah

  1. Hentikan Dosamu!, karya Majdi Al-Hilali

  2. Karena Inilah Aku Masuk Islam, karya Nuh Ha Mim Keller

  3. Bunga-bunga Cinta di Malam Pertama, karya Nashir bin Musfir Az-Zahrani

  4. Kematian Pasti Datang, karya DR. A’idh Al-Qarniy

  5. Wacana Spiritual, karya Mufti Muhammad Taqi Utsmani


Karya Genuine

  1. Doa dan Adab Harian untuk Anak

  2. Keliling Indonesia

  3. Around The World (Keliling Dunia)

  4. Kisah Asmaul Husna

  5. Petualangan Para Penakluk Samudera dari Marco Polo sampai Cheng Ho

  6. Kisah Ulul Azmi

  7. 50 Kisah Pencerah Jiwa

  8. Menjawab 1000 pertanyaan dengan AlQur'an (Memahami Al-Qur'an ala Doktor Cilik dari Iran)

  9. 2 Tetes Air Mata Pemadam Api Neraka

  10. Tahajud Energi Sejuta Hidup

  11. Menjadi kaya dengan Shalat Dhuha

  12. Rahasia Sukses dengan Shalat Hajat

  13. Membuka Pintu Rejeki Dengan Surat Al-Waqi'ah

  14. Waktu dan Tempat Mustajab untuk Berdoa

  15. Solusi Hidup dengan Shalat Istikharah

  16. Kiat Khusuk dan Khuduk dalam Tahajud

  17. Tuntas Memahami Rukun Iman dan Islam

  18. Panduan Lengkap Shalat Wajib dan Sunnat


**Peracik dan perajin kata pada beberapa media massa lokal maupun nasional, penerjemah, editor, dan penulis buku, tinggal di Yogyakarta.

***Makalah ini disampaikan pada Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Jurnalistik dan Kepenulisan di MA Tajul Ulum Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, pada Selasa, 23 Desember 2008.

**Peracik dan perajin kata pada beberapa media massa lokal maupun nasional, penerjemah, editor, dan penulis buku, tinggal di Yogyakarta.

***Makalah ini disampaikan pada Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Jurnalistik dan Kepenulisan di MA Tajul Ulum Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, pada Selasa, 23 Desember 2008.